Menulis untuk Bersenang-senang dan Terapi
![]() |
Sumber gambar: bbpmp jatim |
Terasing dari Keramaian
Namun, jika ditelaah sedikit lebih
dalam, bisa ada beberapa kemungkinan mengapa pada liburan semester ini (sebenernya
gak ada libur), merasa sangat tertekan. Setertekan saat menjadi tim akreditasi
namun saat akan bekerja tidak tahu bagaimana mengerjakannya, karena tidak ada
petunjuk dan contoh sebelumnya. Mencari jalan keluar sendiripun tidak berguna
sama sekali, karena borang akreditasi harus sesuai dengan ketentuan. Akan
dinilai pada akhirnya.
Kemungkinan pertama, ada wishlist
yang tidak atau belum terwujud. Kedua, riset kuliah yang tidak mencapai target.
Semester sekarang seharusnya sudah beres data lapangan, malah tersendat karena kesulitan
membagi waktu dengan penugasan lain. Ketiga, saat libur semesteran, dihadapkan
pada penyuntingan buku yang akan terbit pada semester depannya. Tepatnya pada
awal semester ganjil ini. Keempat, pekerjaan-pekerjaan yang tidak selesai pada
waktunya pada akhirnya turut menjadi snowball yang bisa kapan saja hancur dan meledak. Dan tentu
saja ini tidak boleh dibiarkan! Apakah diri ini rela membiarkan struk? padahal relatif masih muda, tidak kan?
Kembali pada Kebiasaan Lama
Lalu bagaimana keluar dari merasa
sepi dan terasing di tengah keramaian ini?
Kebiasaan konvensional pada jaman
kuliah tetap dilakukan, namun saat target-target pekerjaan mendekati masa
deadline, ternyata kebiasaan kecil yang dapat mengubah cara berpikir dan
bertindak tersebut sedikit terabaikan, MEMBACA. Membaca bisa membantu
memperbaiki cara berpikir dan berkeinginan. Untuk menguatkan cara berpikir
dan berkeinginan tersebut, menulis menjadi cara halus agar sepi dan terasing
ini berubah menjadi satu kesenangan tersendiri. Buktinya, hari ini, jemari ini
dengan auto bisa menumpahkan segala kesah dan gulana yang sejak beberapa minggu
ini menggelayuti pikiran. Sampai dada kadang-kadang merasa sesak.
Ya, MEMBACA DIBARENGI DENGAN MENULIS. Terapi ini sudah sejak lama dilakukan, yaitu menulis untuk bersenang-senang. Tapi tentu tidak dengan menulis buku. Karena menulis buku yang di dalamnya memiliki kewajiban dari pekerjaan walaupun pada saat menulis menjadi bagian dari kesenangan, tapi saat masuk penerbit justeru jadi memusingkan. Karena, buku yang kita tulis harus layak dibaca untuk orang lain. Ini juga sekaligus menjadi ambisi, setidaknya seumur hidup, memiliki satu buku yang dikarang utuh, bukan buku chapter, antologi, ataupun menulis kroyokan.
Tapi menulis buku sendiri, ibarat kata jika
kita menulis satu buku sendiri, dari nol hingga terbit, kita memiliki album
sendiri. Jadi tentu saja tidak boleh dilewatkan, dan sebagai penulis harus bisa
bekerja sama dengan penerbit dan tim yang ada di dalamnya, salah
satunya adalah editor. Karena melalui editor, kita juga belajar langsung dan
introspeksi bahwa ternyata tulisan yang menurut kita sudah dapat dibaca,
setelah dibaca ulang hasil koreksi dari editor ternyata kalimatnya sulit dipahami,
bahkan oleh penulisnya sendiri. Kaan pusiiing jadinya! Akan tetapi, dratf harus tetap diperbaiki. Itulah kenapa para
penulis selalu berterima kasih kepada editornya. Bisa dibayangkan, jika oleh
penulisnya sendiri kalimat tersebut sulit dipahami, bagaimana dengan pembacanya
kelak?
Oleh karena itu, di tengah
target-target duniawi tersebut, jiwa menjadi sepi dan terasing. Karena harusnya
jiwa diberi makanannya sendiri, bukan ambisi-ambisi duniawi.
Maka karena sudah hampir seminggu
tidak membaca buku, hari ini, saya baca kembali. Dan yang penting, saya juga
menulis kembali melalui catatan ini. Sudah lama saya tidak menulis sejak bulan
maret tulisan terakhir dimuat di DetikCom tentang Menyalakan Kebenaran di
Ruang Digital. Hari ini saya lebih memilih menulis pada blog, agar semua
unek dan gelisah hati serta pikiran bisa ditumpahruahkan dalam blog yang sudah
lama tidak bersua dengan kehadiran tuannya.
Menulis adalah Bersenang-senang
Menulis adalah menuangkan jalan
pikiran. Menulis adalah tumpah ruah keluh kesah. Menulis adalah
bersenang-senang dengan kata-kata. Menulis adalah cara seseorang mengamukkan
dan memuntahkan apa yang tidak bisa diimplementasikan dalam lisan dan verbal.
Menulis adalah obat bagi jiwa. Menulis adalah terapi hati sekaligus pikiran. Ia
menyembuhkan rasa gulana hati dan beban berat pikiran. Maka tidak heran
Sokrates pada masanya sebelum Masehi memuntahkannya ke jalan-jalan. Bertanya ke
orang-orang pasar, bertanya ke orang-orang yang sedang nongkrong. Sampai
lahirlah kaum Stoik yang mencari jalan penyembuhan melalui filsafat. Tak lain
bagaimana filsafat melalui kata-katanya dapat menyembuhkan dan mengurangi beban
kehidupan.
Ini menjadi cara-ku. Entah akan
bisa sembuh atau tidak, tapi setidaknya, aku menumpahkan beban pikiran dan gelisah
hati di sini agar sedikit beban ini hilang. Agar cara berpikir-ku kembali
mengalir karena dibantu oleh derasnya muntahan kata dalam catatan ini. Maka
tidak heran hanya dalam satu jam saja keluar ratusan kata karena inilah bentuk
senang-senang dari menulis. Tidak harus berpikir keras, cukup tumpahkan, tumpahkan,
dan tumpahkan. Karena aku sedang mengobati diri, aku sedang menerapi hati, aku
sedang menyembuhkan pikiran agar aku bisa kembali bekerja.
Jika menulis sebagai bagian dari
kegiatan olah pikiran dan hati, sedangkan pikiran dan hati ada di dalam jiwa,
maka tepatlah apa yang ditulis oleh James W. Pennebaker jika berbicara dan
menulis adalah terapi. Ia tulis tesisnya tersebut dalam sebuah buku yang sangat
membantu saya ketika dalam keadaan gundah, Ketika Diam Bukan Emas.
Melalui buku Diam Bukan Emas,
saya juga ingin meneliti bagaimana orang-orang yang merasa tertekan dalam
hidupnya mencari jalan hidup melalui menulis agar ia sembuh dari trauma-trauma
hidup. Sebagaimana yang dilakukan oleh mantan pramugari yang telah mengalami
kecelakaan pesawat dua kali dan yang terakhir membuatnya cacat. Ia melakukan salah
satu terapinya melalui menulis.
Masalah-ku meman tidak seberat
pramugari tersebut, hanya saja dengan beberapa pekerjaan yang tidak selesai-selesai,
sekolah yang tertunda, karya yang tertunda, sementara kerjaan di depan juga menunggu,
mendorong saya ke dalam jurang keterasingan. Maka maaf jika WA Grup yang tidak
langsung menuntut saya terlibat jarang saya komentari. Jarang saya silaturahmiin.
Begitu juga melalui media sosial, saya jarang unggah kecuali sesekali melalui Twitter,
karena di sana bisa lebih ekspressif dibanding media lain.
Pada akhirnya, tulisan ini adalah
untuk bersenang-senang atau refreshing agar kejenuhan itu bisa hilang dan
mengembalikan moodku untuk bekerja. Selamat siang netizen Indonesia!***[]
bener-bener mindset yang ingin saya tekuni saat ini abah. Sekarang jadi lebih sulit buat nulis, kira-kira tips untuk saya bagaimana ya abah?
BalasHapusYa jadi nulis itu pada akhirnya tidak dimotivasi oleh dunia luar ya, tapi kebutuhan dari diri kita sendiri.
HapusSetuju dengan abahraka, menulis untuk bersenang-senang bisa dijadikan mode berkarya yang hasilnya bisa saja jadi luar biasa, kan?
BalasHapusSaya pernah mendapatkan sebuah kondisi menulis untuk alasan ini dan hasilnya memang beda daripada menulis karena deadline hueheuhe :)
Lebih terjiwai tulisannya ya dan hidup. Kalo deadline kadang condong pragmatisnya, walaupun seharusnya kalo deadline kerjaan tetap harus ada nyawanya.
HapusSama mas, menulis menjadi terapi otak untuk mencegah kepikunan juga. Orang yang produktif menulis rata-rata daya ingatnya bagus.
HapusSetuju banget.. Menulis membantu para penulisnya untuk mengeluarkan isi hatinya, kadang menulis bisa menjadi terapi jiwa juga.. Jadi ngga heran bnyk penulis yg dgn melihatnya kita merasa tenang bgt hidupnya, padahal semua masalahnya tidak ada orang yg tau kecuali saat org lain tsb membaca tulisannya.. Semangatt berkarya abah
BalasHapusIya gitu, menulis sebagai terapi, beban kita setidaknya tidak kita pendam sendiri ya, apalagi kita berbagi dengan orang lain, masukan orang biasanya jadi semacam celah kita untuk mendapatkan input.
HapusSaya banget nih, terutama nulis di blog. Benar-benar bikin plong sih. Meskipun tak harus secara gamblang kita curahkan apa adanya, tapi memang efektif banget mengatasi berbagai masalah dan unek-unek. Pada akhirnya, masalah itu selesai tanpa harus kita curahkan kepada orang terdekat, atau malah kepada orang yang salah.
BalasHapusWah kapan-kapan harus bisa ngobrol nih tentang ini ya, karena blog bisa buat therapy ya....
HapusMenulis salahatu cara meluapkan apa yang ada di jiwa dan pikiran. Tempat bersuka cita melepaskan uneg uneg secara positif.
BalasHapusSetuju banget, menulis itu melepaskan energi negatif sekaligus memasukkan energi positif ya....
HapusMenulis memang lebih dari sekadar aktivitas mencatat; ia adalah jendela bagi jiwa untuk berkomunikasi dengan dunia maupun dengan dirinya sendiri. Dalam tulisan, kita menemukan ruang yang tidak terbatas untuk merangkai pikiran, melepaskan emosi, dan mengurai kerumitan yang sering kali sulit diungkapkan secara lisan.
BalasHapusNah itu dia, berkomunikasi secara intrapersonal ya, karena ketika menulsi pada dasarnya kita sedang berdialog dengan diri kita sendiri.
HapusAku sudah merasakannya, bahwa lewat menulis bisa melepas emosi negatif dengan cara positif. Makanya menulis jadi salah satu passion yang saya jaga hingga kini.
BalasHapusBanyak manfaatnya ya, bahkan katanya bisa antisipasi untuk kepikunan ya...
HapusKayaknya kegiatan apapun kalau ada pressurenya jadi beban, kok. Menulis juga. Saya dulu gitu waktu nulis fiksi. Sekarang malah lebih lega waktu nggak mikirin selera pasar, buku best seller, dll.
BalasHapusSetuju sekali, menulis lepas saja,
HapusSetuju bahwa menulis bisa untuk relaksasi..tapi kalau pakai target-target bisa juga jadi pemicu stress hahaha... Ngomong-ngomong nulis buku jadi kangen bikin buku lagi euy..
BalasHapusnah itu dia, apalagi kalo ada tugas harus menulis buku karena target kinerja, wah itu jadi stress hahaha
HapusAku berencana mau aktif nulis blog lagi ni di tahun 2025, Abah. Lagi butuh tempat healing. Karena belakangan ini, rasanya, seakan dikejar-kejar waktu, dan segambreng tugas.
BalasHapusIya biar keluar semua energi negatifnya ya, dan energi positifnya masuk. Seiapa tau dengan nulis diary lagi di blog justru jadi tambah produktif ya....
HapusSaya juga mulai nulis diary lagi kak, berhubung nulis fiksi masih bad mood
BalasHapusIya belakangan saya juga mendorong diri untuk menulis lagi catatan hariannya, khususnya bertema traveling dan keluarga mungkin ya....
HapusKalau menulis di blog masuk kategori bersenang-senang alhamdulillah masih saya lakukan sampai sekarang. Meski nanti dunia blog mungkin tidak terlalu menghasilkan lagi saya berharap tetap selalu bisa produktif di area ini
BalasHapusiya sekarang relatif agak susah ya mendapatkan job, siapa tau dengan produktif lagi ngisi konten catatan harian bisa tambah produktif ke yang lain.
HapusRasanya saya perlu menulis untuk bersenang-senang. Apalagi adaptasi aktivitas yang sebelumnya full domestik, sekarang ditambah aktivitas publik. Ingin sekali menulis dalam kondisi rileks
BalasHapusPasti kita punya percikan-percikan pikiran, keluh kesah hati, itu kalo dituangkan ke dalam tulisan, menjadi arena bersenang-senang diri.
HapusSepaket! Ehh sepakattt hahaha...
BalasHapusMenulis adalah healing
Kata orang nanbah kerjaan kata aku nulis nambah pengetahuan
Dulu suka banget baca segala majalah, novel, koran semua dibaca sampe ada satu guru di sekolah tau aku hobi baca dan bisa nulis aku dikasih hadiah buku novel terjemahan judulnya gadis jeruk trus suruh bikin novel serupa itu satu hari
Akhirnya beneran bikin novel haha
Baca dan nulis emang sesoulmate itu...
Gadis Jeruk dari Jostein Gaarder ya, itu novel walau tipis tapi bagus, sama seperti Filosofi kopi, baca novel itu kepala kita seperti dipijit, enggan pindah duduk sebelum selesai.
HapusBetul banget, menulis itu sekaligus menambah pengetahuan, karena kita berusaha juga memanggil file-file lama yang ada dalam memori kita.
Menulis untuk bersenang-senang sekaligus menjaga kesehatan mental. Karena apa yang ada di dalam pikiran atau uneg-uneg bisa dikeluarin dalam bentuk tulisan.
BalasHapus